BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 14 April 2011

20. Mahir Ilmu Hadits Saja Tidak Cukup Untuk Berfatwa

·         Keinginan umat Islam kini untuk kembali kepada Islam di setiap tempat merupakan suatu kabar gembira. Hal ini nampak jelas di setiap tempat walaupun kebanyakan dari mereka mendapat tantangan yang hebat.
·         Kebangkitan Islam dapat dilihat dari pelbagai sudut misalnya ingin mendirikan negara Islam, pembagian zakat dan qurban yang semakin meningkat, penampakan amalan sunnah Nabi shallallahu ‘alahi wasallam dalam kehidupan ummat, pertumbuhan kegiatan keIslaman, penerbitan buku-buku yang membincangkan tentang pengharaman sistem riba dan sebagainya, terutamanya di negara-negara yang mayoritas Islam.
·         Suatu kabar gembira yang lebih bernilai lagi adalah, kebangkitan Islam dari sudut ilmiah, yaitu, perbincangan mengenai “Seruan untuk Kembali kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Begitu banyak sekali buku-buku yang diterbitkan mengenai Hadits-hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam yang terkenal maupun yang tidak terkenal.
·         Kebanyakan daripada buku-buku mengenai Hadits-hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tersebut, tidak disyarah dan jelaskan oleh ulama’-ulama’ ahli fiqh, secara terperinci mengenainya. Oleh karena itu menyebabkan sebagian pembaca yang tidak mempunyai bekalan ilmu fiqh yang mantap, ataupun yang tidak belajar dari ulama’-ulama’ terlebih dahulu, akan keliru dan seterusnya. Pemahamannya akan bertentangan dengan maksud sebenarnya hadits-hadits yang dibacanya. Kemungkinan besar juga, si pembaca tersebut akan terdorong untuk mengamalkan seluruh hadits yang dinilai sebagai hadits Shahih oleh segolongan ahli hadits (tanpa menilai adakah hadits-hadits itu digunakan atau tidak oleh ulama’-ulama’).
·         Kemungkinan juga, si pembaca yang dangkal ilmunya, akan berkata kepada dirinya: “kami beramal dengan hadits ini untuk suatu ketika, dan suatu ketika yang lain, ditinggalkan hadits ini (tidak beramal dengan hadits tersebut)”. Si pembaca yang kurang ilmunya itu tidak bertanya terlebih dahulu kepada ulama’-ulama’ yang khusus dalam bidang syariah yang masih hidup, mahupun membaca ulasan-ulasan pada buku-buku karangan ulama’-ulama’ Muktabar yang telah tiada, mengenai hadits-hadits yang dibacanya, seperti Fathul Bari karangan Imam Ibn Hajar Al-Asqalani, Syar Sahih Muslim oleh Imam An-Nawawi, dan sebagainya.
·         Dia juga tidak mempelajari tentang ilmu Al-Arjah (Hadits-hadits yang paling kuat untuk digunakan dalam berhujah pada masalah syariat), tidak mengetahui yang mana hadits yang diriwayatkan terlebih dahulu dan yang mana yang diriwayatkan kemudian, yang mana hadits yang khusus dan yang mana hadits yang diriwayatkan khas untuk keadaaan tertentu, yang mana ilmu-ilmu tersebut amat penting dalam memahami dan mengkaji maksud suatu hadits.
·         Kadang-kadang pembaca buku-buku hadits, yang kurang ilmunya, apabila telah jelas sesuatu hadits, dia menyangka bahawa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kadang-kadang terlupa apa yang pernah Baginda shallallahu ’alaihi wasallam pernah sabdakan, kemudian menukar perkataan Baginda shallallahu ’alaihi wasallam yang berlainan dengan kata-kata Baginda shallallahu ’alaihi wasallam sebelum itu, walaupun pada hakikatnya, Baginda shallallahu ’alaihi wasallam seorang yang Ma’shum (tidak berdosa dan tidak melakukan kesalahan). Allah subhanahu wa ta’ala juga pernah berfirman: (( Kami akan bacakan (beri wahyu) kepadaMu (Hai Muhammad), maka janganlah Kamu melupakannya )).
·         Maka, para penuntut ilmu yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melalui hadits-hadits Baginda shallallahu ’alaihi wasallam yang diriwatkan oleh para ulama’ hadits dalam kitab-kitabnya, perlu juga merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang dikarang oleh ulama’-ulama’ fiqh. Ini kerana, didalamnya terdapat adonan adonan daripada hadits-hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dalam bentuk praktikal yang dikenali sebagai ilmu fiqh.
·         Seperti yang dapat dilihat dari kaca mata sejarah, sebagian ulama’-ulama’ hadits yang agung di zaman salaf yang shaleh juga, amat menghormati dan memuliakan ulama’-ulama’ Fiqh yang mahir dalam bidang hadits juga, yang Allah pelihara mereka daripada bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Bahkan, mereka turut mempelajari makna-makna hadits yang mereka riwayatkan dari ulama-ulama fiqh yang muktabar.
·         Abdullah bin Mubarak (seorang ulama’ hadits dari Khurasan) rahimahullah pernah berkata: “Jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufyan (dua ulama’ Fiqh), niscaya aku sama saja seperti orang awam (yang tidak memahami Hadits-hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam.
·         Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah. pernah berkata: “Orang yang pertama membantu saya dalam memahami hadits dan menjadikan saya seorang ahli hadits ialah Imam Abu Hanifah (seorang ulama’ fiqh)” (Kitab “Jawahir Al-Mudhiyah” jilid 1 m/s 31)
·         Abdullah bin Wahhab rahimahullah (seorang ahli hadits juga sahabat Imam Malik rahimahullah) pernah berkata: “saya telah berjumpa dengan tiga ratus enam puluh ulama’, (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laith rahimahullah (ulama’-ulama’ Fiqh), niscaya saya akan sesat dalam ilmu.” (Ibn Hibban, muqoddimah Kitab “Al-Majruhin”)
·         Beliau juga diriwayatkan pernah berkata: “Kami mengikuti empat orang ini dalam ilmu, duanya di Mesir dan dua orang lagi di Madinah. Imam Al-Laith bin Sa’ad dan Amr bin Al-Harith di Mesir, dan dua orang lagi di Madinah ialah Imam Malik dan Al-Majishun. Jika tidak karena mereka, niscaya kami akan tersesat.”
·         Imam Al-Kauthari rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Intiqa’ karangan Ibn Abdil Bar, telah berkata Abdullah bin Wahhab (dari sanad Ibn ‘Asakir): “Jika tiada Imam Malik bin Anas dan Imam Al-Laith Sa’ad, niscaya saya akan binasa. Dulu, saya menyangka setiap yang datang dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam (As-Sunnah dan Al-Hadits), perlu diamalkan“.
·         Maksud kesesatan dalam perkataan beliau ialah: pertentangan dengan maksud hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Kemudian, Imam Al-Kauthari mengulas: “Kesesatan yang dimaksud seperti berlaku pada kebanyakan manusia yang jauh dari ilmu Fiqh dan tidak dapat membedakan tentang hadits yang diamalkan dan selainnya.  (Ktab “Al-Intiqa’ fi Fadhail Al-A’immah Ath-Thalathah Al-Fuqoha’” m/s 27-28)
·          Al-Qodhi ‘Iyadh rahimahullah meriwayatkan, Ibn Wahhab rahimahullah juga pernah berkata: “Andai Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyelamatkan saya dari kesesatan melalui Imam Malik dan Al-Laith rahimahullah, niscaya saya akan sesat.” Beliau ditanya: “Mengapa begitu?” Beliau menjawab: ” Saya telah menghafal banyak hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, sehingga timbul berbagai persoalan. Kemudian, saya pergi ke Imam Malik dan Al-Laith untuk bertanya mengenainya, maka mereka berkata kepada saya: “Hadits ini kamu amalkan dan ambil ia sebagai hujjah, dan hadits yang ini pula kamu tinggalkan (tidak perlu menggunakannya).“ (Kitab “Tartib Al-Madarik” jilid 2 m/s 427)
·         Sufyan bin ‘Uyainah pernah berkata: “Hadits itu menyesatkan kecuali kepada Al-Fuqoha’ (ulama’ ahli Fiqh). Kadangkala, suatu hadits itu tidak boleh dipegang secara dzahir saja, malah ada ta’wilannya. Kadangkala, sesuatu hadits itu pula ada maksud yang tersembunyi. Ada juga hadits yang perlu ditinggalkan dengan sebab-sebab tertentu, yang mana, semua itu hanya diketahui oleh orang yang mahir dan berilmu luas khususnya dalam Fiqh (kefahaman). (Imam ibn Abi Zaid Al-Qairawani, “Al-Jami’” m/s 118)
·         Ibn Rusyd rahimahullah pernah ditanya tentang kata-kata: “Hadits itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh”. Beliau ditanya lagi: “Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai Hadis terlebih dahulu.?!” Beliau menjawab: “Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah (shallallahu ’alaihi wasallam), ia merupakan kata-kata Ibn ‘Uyainah rahimahullah dan ahli-ahli Fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu tepat, kerana kadangkala, sesuatu hadis itu diriwayatkan dalam sesuatu keadaaan yang khusus, tetapi maknanya umum, begitu juga sebaliknya. Ada juga Hadits yang Nasikh dan Hadits yang Mansukh (tidak digunakan lagi). Kadangkala pula, ada hadis yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih). Ada juga hadis yang maksudnya hanya diketahui oleh para ahli Fiqh saja. Barangsiapa yang hanya mengumpul hadis tetapi tidak memahaminya tidak dapat membedakan antara hadits yang maksudnya umum atau khusus. Oleh karena itu, ahli Fiqh (Faqih) itu bukanlah orang yang sekedar mengetahui tentang Hadits-hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam saja, bahkan memahaminya secara mendalam. Jika seseorang itu tdak mampu memahami secara mendalam dalam masalah hadits mahupun Fiqh, maka dia bukanlah seorang ahli Fiqh (Faqih), walaupun dia mengumpul banyak Hadits-hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Inilah sebenarnya maksud kata-kata Sufyan bin ‘Uyainah. (Abu ‘Abbas Al-Wansyarishi “Al-Mi’yar Al-Mu’rab” jilid 12 m/s 314)
·         Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah berkata mengenai fiqh Imam Abu Hanifah rahimahullah: “Jangan kamu katakan fiqh ini (mazhab Imam Abu Hanifah) merupakan pendapat beliau, tetapi katakanlah, ia (mazhab Abu Hanifah) merupakan tafsiran bagi hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. (Kitab “Manaqib Al-Muaffaq Al-Makki” m/s 234)
·         Sebagian orang, hanya membaca matan-matan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam saja, tanpa menghiraukan ulasan-ulasan ahli-ahli Fiqh yang bersungguh-sungguh secara khusus dalam mengkaji hadits-hadits tersebut, mengenai hadits-hadits tersebut. Mereka berfatwa dan mengemukakan hadits-hadits yang diragukan kesahihannya disisi Imam-imam terdahulu yang ‘Alim, dalam masalah hukum dan percakapan mereka.
·         Kadangkala, mereka menolak ulasan-ulasan ulama’-ulama’ yang ‘Alim, mengenai kedudukan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, dan bersangka buruk pula kepada ulama’-ulama’ tersebut. Ada dikalangan mereka pula, yang melemparkan tuduhan yang buruk keatas ulama’-ulama’ muktabar tersebut serta pengikut-pengikut mereka dan mengatakan bahwa mereka (ulama’-ulama’ terdahulu dan pengikut-pengikutnya) jahil tentang hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam. Amat buruklah tuduhan mereka itu!
·         Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah bekata (seperti yang diriwayatkan oleh anaknya Soleh rahimahullah): “seseorang yang ingin memberi fatwa perlulah terlebih dahulu memahami keseluruhan Al-Qur’an, mengetahui sanad-sanad hadits Nabi sallallahu’alaihi wasallam dan mengetahui Sunnah-sunnahnya.  (Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah, “I’lamul Muaqi’iin”, jilid 2 m/s 252)
·         Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “saya pernah bertanya kepada ayah saya (Ahmad bin Hanbal rahimahullah), tentang seorang pemuda yang memiliki banyak kitab-kitab mengenai hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dan himpunan kata-kata para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in dan para tabi’in rahimahullah, tetapi tidak mengetahui tentang kedudukan sesuatu hadits tersebut baik sahih atau dhoif, adakah dia boleh beramal sesuka hatinya? Ataupun, adakah dia layak memilih hadits mana yang dia mau menggunakan, dan memberi fatwa atau beramal dengannya? Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Tidak! Sehinggalah dia bertanya kepada ulama’ mengenai hadits mana yang boleh digunakan. Kemudian, barulah dia boleh beramal dengannya (hadits yang disahkan kesahihannya oleh ulama’ yang ditanya mengenainya).“ (Al-Faqih Shiekh Habib Ahmad Al-Kairanawi m/s 5, dipetik dari “I’lamul Muaqi’iin”)
·         Imam As-Syafi’i rahimahullah pernah menegaskan: “Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkam dan mutasyabih, ta’wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah. Dia juga perlu mengetahui tentang hadits-hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, serta ilmu-ilmunya (‘ulumul hadits) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain. Setelah itu, dia juga pelu menguasai Bahasa Arab, Sya’ir-sya’ir Arab, dan sastera-sasteranya (karena Al-Qur’an dan Hadits dalam Bahasa Arab dan mengandungi kesasteraannya. Setelah itu, dia juga pelu mengetahui perbedaan Bahasa Arab di kalangan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan pekara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak untuk memberi fatwa. (Ibid m/s 6 dipetik dari kitab “Al-Faqih wal Mutafaqqih” karangan Al-Khatib Al-Baghdadi).
·         Khalaf bin Umar rahimahullah telah berkata: “Saya mendengar Malik bin Anas rahimahullah berkata: “Saya tidak pernah duduk untuk memberi fatwa sehinggalah saya bertanya terlebih dahulu kepada orang yang lebih ‘alim dari saya tentang kelayakan saya untuk berfatwa. Saya pernah bertanya terlebih dahulu kepada Rabi’ah rahimahullah dan Yahya bin Sa’id rahimahullah, sedangkan mereka menyuruh saya untuk berfatwa. Maka, saya menegaskan: “Wahai Aba Adullah, adakah tidak mengapa untuk saya berfatwa sedangkan kamu ada di sini?” Beliau menjawab: “Saya tidak layak berfatwa. Tidak layak bagi seseorang itu, menganggap dirinya layak untuk sesuatu perkara, sehinggalah dia bertanya kepada seseorang yang lebih mengetahui darinya.“ (Ibid m/s 6, dipetik dari kitab “Tazyiin Al-Mamalik” karangan Imam As-Suyuti m/s 7-8)
·         Maka, jelaslah berdasarkan kata-kata ulama’-ulama’ salafush shaleh yang dinukilkan oleh Sheikh Habib Al-Kairanawi rahimahullah, telah menolak pendapat orang-orang mewajibkan setiap orang untuk berijtihad. Kemungkinan, mereka tersalah faham terhadap perkataan-perkataan setengah ulama’ dalam karangan-karangan mereka, padahal kefahaman yang salah itu, bertentangan dengan kefahaman jumhur ulama’. Kemudian, golongan tersebut memperjuangkan kefahaman yang salah ini, dan mengajak seluruh umat Islam mengikuti pendapat tersebut (walaupun pada hakikatnya sangat bertentangan dengan kefahaman yang sebenarnya). Akhirnya, tejadilah kekacauan dan pertentangan dikalangan umat Islam, disebabkan oleh perjuangan terhadap kefahaman yang salah ini (yang mewajibkan setiap orang berijtihad dan tidak mengikuti kefahaman yang sebenarnya dari ulama’ salaf). Na’uzubillah min dzalik.
·         Salah faham ini sebenarnya membawa kepada pepecahan dikalangan penuntut-penuntut ilmu dan akhirnya membawa kepada permusuhan dan saling jauh menjauhi antara satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan terputusnya tali persaudaraan yang Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh umat Islam menyambungkannya (tali persaudaraan saudara Islam).
·         Kita perlulah mempelajari ilmu dari ahli ilmu yang muktabar dari sudut ilmunya, bukan sekedar membaca buku-buku imiah tanpa dibimbingi oleh seseorang guru yang alim. Hal ini karena, barangsiapa yang tiada guru yang membimbingnya dalam mendalami samudera ilmu Islam dalam kitab-kitab, maka syaitanlah yang akan menjadi pembimbingnya. Bahkan, para ulama’ muktabar turut menyeru agar ilmu agama dipelajari oleh kaidah isnad, di mana kefahaman tentang agama Islam diambil dari para ulama’ yang jelas sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam.
·         Nas-nas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bagaikan bahan mentah bagi Syariat Islam. Ia perlulah diadoni dengan acuan-acuan ilmu-ilmu Islam yang lain seperti ilmu Asbabun Nuzul, Asbabul wurud, ilmu rijal, ulumul Qur’an, ulumul Hadis, usul Fiqh dan sebagainya. Al-Habib Yusuf Al-Hasani rahimahullah pernah menyebut bahwa “sesiapa yang tidak menguasai ilmu-ilmu tersebut, namun mencoba mengamalkan hadits-hadits yang dibacanya tanpa bimbingan guru-guru yang alim, bagaikan mengambil daging mentah dari dalam freezer yang dingin dan memakannya begitu saja. Bukankah ianya memudaratkan diri sendiri
·         Jika kita dikalangan orang awam, bukan ahli ilmu, maka bertanyalah kepada orang yang ‘alim, dan janganlah beijtihad sendiri terhadap nash-nash. Allah telah berfirman:
      فسئلوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون
Maksudnya: Bertanyalah kepada yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (akan sesuatu perkara).
Bahan Baku dan Pengolahannya

Sumber-sumber hukum Islam ibarat bahan baku dari sebuah hidangan. Hidangan akan memenuhi standar gizi dan standar rasa yang tinggi manakala dibuat dari bahan yang berkualitas. Tentu saja bukan hanya sekedar bahan berkualitas yang paling menentukan, tetapi juga keahlian juru masak dalam mengolah dan menentuan kadar tiap-tiap bahan baku.
Kalau kita kaitkan dengan ilmu hadits dalam perspektif hukum Islam, maka hadits-hadits itu ibarat salah satu bahan baku sebuah masakan. Semakin shahih suatu hadits akan semakin meningkatkan mutu masakan tersebut.
Ketika bicara tetang hukum Islam, masih ada satu bagian pekerjaan maha penting setelah kita bicara tentang keshahihan hadits, yaitu proses istimbath ahkam. Proses ini jauh lebih rumit dari sekedar menilai keshahihan suatu hadits. Yaitu dengan mulai mengumpulkan terlebih dahulu semua dalil baik Quran atau sunnah yang sekiranya terkait dengan suatu masalah yang ingin diketahui hukumnya. Sangat besar kemungkinan suatu dalil dengan dalil lainnya saling bertentangan.
Dalam keadaan itu, para ulama mendahulukan proses al-jam'u terlebih dahulu sebelum sampai kepada penolakan salah satunya. Sedangkan pertimbangan tingkat keshahihan, bukan satu-satunya cara. Maksudnya, bila ada dua hadits, yang satu lebih shahih dan yang lainnya satu derajat di bawahnya, meski masih tetap dalam kelompok shahih, tidak serta merta yang kurang itu langsung ditolak keberadaannya.
Pertimbangan lainnya, misalnya, masalah keumuman dan kekhususan suatu dalil. Bisa saja ada suatu hadits yang shahih, tapi setelah diperdalam redaksinya, ternyata masih bicara hal-hal yang bersifat umum. Sedangkan ada hadits lainnya yang mungkin derajatnya lebih rendah, tapi sangat tepat pada titik permasalahan yang dibahas. Maka dalam hal ini, dalil yang lebih khusus lebih didahulukan ketimbang dalil yang bersifat umum.
Pertimbangan lainnya lagi misalnya masalah waktu wurud-nya suatu dalil. Misalnya ada dalil yang keluar lebih dahulu akan dikoreksi oleh dalil yang datang belakangan. Istilah yang sering digunakan adalah nasakh dan mansukh.
Standar Pengambilan Hukum
Selama ini para shahabat, tabi'in dan para pengikutnya melakukan istimbath hukum sesuai dengan nalar mereka masing-masing. Terkadang antara metode yang digunakan seseorang dengan lainnya saling berbeda. Bahkan tidak jarang juga terjadi ketidak-runtutan dalam setiap proses pengambilan kesimpulan itu. Semua itu akibat belum adanya -waktu itu- sistematika baku dalam proses pengambilan kesimpulan hukum.
Barulah setelah lahirnya imam As-Syafi'i (150-204 H) rahimahullah, muncul metode yang sangat ilmiyah dan profesional yang bisa digunakan oleh setiap faqih dan ahli syariah dalam proses mengambil kesimpulan hukum. As-Syafi'i adalah orang yang pertama kali meletakkan dasar-dasar fiqih, sebuah cabang ilmu yang paling asasi dan esensial dalam masalah pengambilan kesempulan hukum. Ilmu itu kemudian kita kenal dengan ilmu ushul fiqih.
Mustahil seseorang bisa dikatakan sebagai ulama yang berhak mengeluarkan fatwa hukum, apabila tidak mengerti ilmu ushul fiqih. Seperti yang juga seringkali kita saksikan sekarang ini, seorang yang hanya sekedar baca kitab matan hadits, lalu tiba-tiba berfatwa ini dan itu tentang hukum Islam. Ini jelas menyesatkan bahkan merusak tatanan hukum Islam. Karena dia berfatwa tanpa ilmu.
Padahal dasar-dasar metologi pengambilan kesimpulan suatu hukum tidak pernah dikuasainya, apalagi ilmu-ilmu penunjangnya. Akhirnya jadilah taburan fatwa yang terkadang terlalu mensimplifikasi masalah. Sebentar-sebentar bisa keluar fatwa yang terlalu dipaksakan, sebab tidak lahir dari suatu proses istimbath hukum yang baku dan profesional.
Kalau kita ibaratkan dengan masakan tadi, meski masakan itu terdiri dari bahan baku yang berkualitas, namun cara mengolahnya tidak benar. Padahal tidak mungkin umat ini langsung makan beras, atau sayuran mentah begitu saja yang dipetik di ladang. Semua perlu di'siangi ' terlebih dahulu, dibuatkan bumbu,ditakar kadarnya, diatur proses pengolahannya sehingga siap disantap tanpa sakit perut.
Semua ini idealnya dilakukan oleh koki profesional, yang mengerti tentang bahan baku yang baik, juga mengerti standar kebutuhan gizi dan mahir dalam masalah pengolahan serta penyajiannya.
Kalau kita serahkan begitu saja seorang ahli hadits yang tahunya hanya urusan shahih dan tidak shahih untuk berfatwa tentang hukum, sementara dia tidak punya kapasitas dalam hal istimbath hukum, ibaratnya kita tidak makan masakan, melainkan kita makan bahan-bahan mentah, beras mentah, tempe mentah, daging mentah, sayuran mentas, yang belum tentu cocok untuk perut kita. Karena standar gizi, pengolahan, penyajiandan ukurannya tidak jelas.
Kita butuh para koki ahli mengolah makanan yang memenuhi standar gizi dan juga standar cita rasa yang tinggi. Mereka adalah para ulama syariah, yang sudah pasti juga ahli hadits. Levelnya di atas dari para ahli hadits.
Sebagai perbandingan, Imam Asy-Syafi'i sebelum menjadi ahli fiqih dan peletak dasar ilmu ushul fiqih, beliau berangkat dari seorang ahli hadits yang mahir memilah dan memilih hadits shahih dan tidak shahih. Tapi itu saja belum cukup, perlu adanya sistematika pengambilan kesimpulan hukum yang baku. Sehingga setiap fatwa yang beliau keluarkan, meski kadang menyendiri, sangat-sangat kuat fundamennya. Sulit untuk mematahkan hujjah-hujjah beliau begitu saja, kalau memang paham urusan ilmu syariah.

Sudah menjadi suatu kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa kebanyakan muslim di Indonesia sejak dari awal mengikuti madzhab Syafi’i, karena yang menyebarkan  Islam pertama kali adalah orang-orang yang menjadi pengikut Madzhab Syafi’i. Hal ini tidak berarti tidak boleh atau tidak bisa mengikuti madzhab yang lainnya, asalkan bisa saling menghormati, saling menjaga dan yang paling penting dapat menjaga satu hati-kasih sayang dalam persatuan Islam.  Walaupun ada satu dua percikan perbedaan tidaklah menjadikan permusuhan yang berkepanjangan, sehingga tetap dapat menjaga keharmonisan dalam beretika sebagai muslim yang baik. Memang setiap orang yang telah berpegang kepada madzhabnya (walaupun mereka tidak mengaku bermadzhab) pasti mereka akan meyakini ilmu apapun yang telah didapat oleh gurunya atau imamnya di dalam mengamalkan perintah Allah dan RasulNya. Akan tetapi jika seorang muslim yang sudah meyakini amal agamanya tersebut melampaui batas (ghuluuw), sehingga seolah-olah menghakimi (padahal hakim yang sesungguhnya adalah Allah subhanahu wa ta’ala) muslim pengikut madzhab lainnya, dengan pernyataan sesat, jahil, menyimpang dari sunnah, bahkan sampai mengkafirkan dan orang yang berbeda dengan madzhab sebagai ahli neraka maka inilah yang akan merusak keharmonisan ummat dan memecah belah persatuan ummat islam; sesuatu yang dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaik apapun niatnya, jika melampaui batas maka hawa nafsu akan ikut serta di dalamnya, yang akhirnya akan berefek negatif di tengah-tengah ummat. Untuk itulah tulisan ini dibuat bahwa kebanyakan muslim di Indonesia ini (khususnya penulis blog ini) telah mempunyai suatu ikutan/madzhab yang sangat diyakini kebenaranya, dengan dalil yang paling kuat. Tulisan ini dibuat untuk ikut berpartisipasi didalam mempertahankan keyakinan yang telah ada sejak zaman dahulu, dan mudah-mudahan juga dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang mungkin mengalami kebingungan dengan keadaan yang dihadapi di tengah-tengah ummat Islam.

Setiap muslim dalam keadaan apapun, dimana saja akan tetap mengikuti guru atau imamnya, sebab suatu hal yang mustahil jika orang hidup di zaman kita sekarang ini ingin langsung mengamalkan perintah Allah dan Sunnah RasulNya secara langsung. Apalagi dengan azas kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, tanpa melalui secara berurutan dari seorang guru atau imam. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah bahwa Ulama adalah pewaris Nabi. Untuk menganalisa satu hadits saja diperlukan berbagai jenis ilmu tentang hadits, dengan waktu yang cukup panjang sehingga dapat ditentukan hukum dari hadits tersebut. Bagaimana dengan seluruh amal agama? Karena itu diperlukan sanad dalam ilmu hadits ataupun sanad dalam berguru untuk bisa melaksanakan perintah Allah dan RasulNya secara benar dan shahih. Tanpa itu akan banyak sekali terjadi pertentangan istinbath hukum, yang akhirnya puncaknya akan memecah belah ummat, kecuali jika bisa saling menghormati dan saling toleransi. Bagi pembaca, Insya Allah akan penulis ketengahkan “TABAQATUSY SYAFI’IYYAH” dalam judul blog yang lain, jika Allah memberi idzin dan  umur panjang.
Sebenarnya dalam madzhab Syafi’i, dasar-dasar atau azasnya mempunyai sandaran yang kuat baik dari naqli ataupun aqli. Adapun Ringkasan Asas-asas dalam Mazhab Syafi'i adalah :
Pertama: Mengikut Al-Qur'an dan As-Sunnah
Tidak diragukan lagi bahwasanya Imam As-Syafi'i terlalu kuat dalam berpegang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Kedua: Mengikut Kebenaran dan Dalil
Ini merupakan ciri-ciri keistimewaan madzhab Imam As-Syafi'i, dimana tidak ada yang dapat mementahkan kebenaran dari ushul-ushul beliau terapkan. Beliau tidak mengikut amalan penduduk sesuatu tempat dan sebagainya. Didapati bahwasanya ada sebagian imam yang menjadikan amalan penduduk sesuatu tempat sebagai hujahnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Malik rahimahullah yang menjadikan amalan penduduk Madinah sebagai hujjah dan tidak mengambil riwayat-riwayat daripada penduduk negeri lain.
Imam Abu Hanifah rahimahullah mengambil riwayat dari ahli Iraq saja, dan tidak akan bertentangan pendapat dengan mereka. Tetapi, keterbukaan Imam As-Syafi'i dengan mengambil ilmu dari berbagai sumber, dari berbagai ulama' manapun di dunia.
Ketiga: Mengambil Ijma’ Perkataan Para Sahabat
Imam As-Syafi'i rahimahullah menganggap bahwasanya perkataan para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in yang bersepakat dalam sesuatu perkara sebagai hujjah dalam mengambil hukum. Adapun jika para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in berselisih dalam sesuatu perkara, maka Imam As-Syafi'i mencari dalil-dalil untuk mentarjihkan (menguatkan) antara pendapat-pendapat para sahabat radhiyallahu anhum ajma'in tersebut.
Imam As-Syafi'i berpendapat bahwasanya jika seorang sahabat radhiyallahu anhum ajma’in memberi fatwa dalam sesuatu masalah dan fatwanya adalah satu-satunya perkataan yang wujud dalam masalah tersebut, tanpa ada nas-nas lain daripada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka perkataan sahabat tersebut lebih utama dijadikan hujah daripada qiyas.
Menurut Imam As-Syafi'e rahimahullah, jika perkataan sahabat radhiyallahu anhum ajma’in tersebut dalam masalah-masalah yang diberi keluasan untuk berijtihad padanya (masalah ijtihadiyah), maka perkataan sahabat radhiyallahu anhum ajma’in tidaklah dianggap lebih utama daripada para mujtahidin yang lain.
Keempat: Berpegang dengan Kaidah Qiyas
Imam As-Syafi'i berpegang dengan manhaj yang sederhana berkenaan penggunaan kaidah qiyas. Beliau tidak terlalu bersikap keras sebagaimana Imam Malik rahimahullah dan tidak juga bersikap terlalu terbuka dalam penggunaan qiyas seperti keterbukaan Imam Abu Hanifah rahimahullah dalam penggunaannya. Imam As-Syafi'i rahimahullah menganggap bahwasanya qiyas juga mempunyai kepentingan yang besar dalam perkembangan ilmu fiqh dan ushul fiqh, lalu menjadikan qiyas dan ijtihad itu sendiri adalah satu makna yang sama.
Kelima: Mengambil Dalil Asal bagi Sesuatu Perkara
Sesungguhnya, madzhab Imam As-Syafi'i dibina di atas asas-asas yang kokoh diantaranya adalah asas yang kelima ini. Maka, asal bagi sesuatu perkara yang memberi manfaat, namun tidak ada nas mengenainya, maka hukumnya adalah mubah (boleh dilakukan dan boleh juga ditinggalkan = harus).
Keenam: Al-Istishab
Istishab ialah: Menetapkan sesuatu perkara di zaman kedua sebagaimana ianya ditetapkan pada zaman yang pertama. Yaitu, jika kita mengetahui suatu hukum terhadap sesuatu pada zaman pertama, lalu tidak terdzahir sesuatu petunjuk yang menunjukkan hukum tersebut dihilangkan pada zaman kedua, maka pada zaman kedua itu juga turut kita hukumkan dengan hukum asal pada zaman pertama tersebut.
Contohnya: Asal hukum itu ialah, seseorang itu “terlepas (bara’ah) daripada sebarang tanggungan terhadap manusia lain” sehingga ada dalil yang menunjukkan bahwasanya dia sudah memikul tanggungjawab terhadap orang lain. Maka, asal "keterlepasan"nya daripada tanggungan terhadap manusia lain itu digunakan secara istishab seperti contohnya: seseorang itu (si A) dituduh mempunyai hutang dengan seseorang yang lain (si B), namun tidak ada bukti menunjukkan bahawasanya dia (si A) pernah berhutang dengan orang (si B) tersebut. Maka, dengan kaidah istishab ini, kita mengembalikan orang (si A) tersebut kepada hukum asalnya sebelum tuduhan tersebut dilakukan yaitu "keterlepasan daripada tanggungan terhadap manusia lain", maka dia (si A) tidak perlu membayar hutang tersebut kepada si B.
Ketujuh: Al-Istiqra'
Istiqra' yaitu mengkaji atau meneliti (tatabbu’) perkara-perkara yang cabang (furu') dan hukum perkara-perkara cabang yang saling berkaitan tersebut kepada suatu perkara yang turut berkait rapat dengan perkara-perkara tersebut. Ia merupakan suatu proses meneliti pelbagai perkara cabang yang mempunyai persamaan dari sudut tertentu, yang membawa kepada hukum yang sama, lalu menjadikan hukum tersebut sebagai hukum yang menyeluruh terhadap cabang-cabang yang termasuk dalam masalah tersebut.
Contohnya: Hukum shalat witir.
Kalau kita mengkaji (tatabbu’) keadaan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam khususnya dalam masalah shalat, kita dapati suatu kaidah umum daripada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara menyeluruh, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menunaikan shalat fardhu di atas kendaraan sewaktu musafir sama sekali. Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat di atas kendaraan, maka diambil kaidah umum yang kita fahami sebelumnya, menunjukkan bahwasanya shalat yang ditunaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas kendaraan tersebut adalah shalat sunnat. Yang demikian ini jika kita ingin mencari hukum tentang shalat witir, lalu kita menemui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam pernah menunaikan shalat witir di atas kendaraan, maka kita meletakkan hukum sunnat bagi shalat witir, hasil dari mengaitkannya dengan hukum menyeluruh yang kita sebut sebelumnya dalam kaidah "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menunaikan shalat sunnat saja di atas kendaraan". Maka, kaidah umum yang membawa hukum menyeluruh ini memberi petunjuk kepada hukum shalat witir yang dicari, dengan menjadikan shalat witir sebagai satu cabang daripada kaidah tersebut, dalam masa yang sama dan hukum yang sama dengan yang lain yaitu : hukum shalat witir adalah sunnat. Jadi, dapat difahami juga, bahwa nas-nas yang dzahirnya seolah-olah mewajibkan shalat witir sebenarnya adalah sekedar suatu bentuk "untuk menguatkan dan menggalakkan terhadap menunaikan shalat witir itu sendiri.
Fasal: Kaidah Mengambil Angka paling Sedikit dalam Perkataan Para Mujtahidin
Imam As-Syafi'i rahimahullah berpendapat bahwasanya kita perlu mengambil pendapat yang menyebutkan angka yang paling sedikit dalam sesuatu masalah yang melibatkan angka, takkala berlaku perselisihan pendapat dalam kalangan para ulama', karena angka yang paling sedikit juga termasuk dalam angka yang paling banyak itu sendiri (contohnya: 1 itu termasuk dalam angka 10 itu sendiri).
Kaidah ini digunakan oleh Imam As-Syafi'i rahimahullah jika tidak ada lagi dalil dijumpai dalam masalah tersebut kecuali perkataan ulama' tersebut.
Contohnya:
Hukum diyyah (bayaran rampasan yang melibatkan nyawa) kafir dzimmi. Para ulama' berselisih pendapat tentang hukum diyyah kafir dzimmi :
Pendapat Pertama: sepertiga daripada diyyah seorang muslim.
Pendapat Kedua: separuh daripada diyyah seorang muslim (madzhab Maliki)
Pendapat Ketiga: sama seperti diyyah seorang muslim (madzhab Hanafi)
Maka, Imam As-Syafi'i mengambil pendapat yang pertama yaitu sepertiga daripada diyyah seorang muslim karena merupakan pendapat yang paling sedikit dalam masalah ini. Hal ini karena, angka yang terendah ini turut mengandungi perkataan yang mengatakan separuh diyyah muslim dan turut mengandungi perkataan seluruh diyyah muslim.
Sepertiga diyyah muslim terkandung dalam pendapat kedua yaitu separuh diyyah muslim dan terkandung juga dalam pendapat yang ketiga yaitu semua angka diyyah muslim.
Wallahu a’lam… 
(diambil dan diadaptasi daripada buku Al-Madkhal ila dirasah Al-Mazahib Al-Arba'ah karangan Mufti Mesir, Prof. Dr. Ali Jum'ah)·   

0 komentar: